Beranda / Berita Terkini / ISRO MI’RAJ DIBAJAK NAFSU SAAT LAFADZ ISLAM MENJADI TOPENG PARA PENYESAT PIKIR

ISRO MI’RAJ DIBAJAK NAFSU SAAT LAFADZ ISLAM MENJADI TOPENG PARA PENYESAT PIKIR

Spread the love

TIMES MERAH PUTIH -Banyuwangi | Apa yang terjadi di Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, bukan sekadar kesalahan teknis acara. Ini adalah pengkhianatan moral, pembusukan akal, dan pelecehan terang-terangan terhadap kesucian agama Islam.

Peristiwa Isro Mi’raj Nabi Muhammad SAW, momentum spiritual yang seharusnya mengangkat derajat akhlak dan kesadaran iman, justru diakhiri dengan tarian biduan, goyangan erotis, pakaian seksi, dan tontonan yang mengandung unsur pornografi. Ini bukan kelalaian. Ini pilihan sadar.

Ketika panitia berdalih bahwa acara dangdutan tersebut dilakukan setelah Isro Mi’raj selesai, publik justru disuguhi fakta yang mematahkan kebohongan itu, penonton masih ramai, banner Isro Mi’raj dengan lafadz Islam masih terpasang, dan ruang sakral berubah menjadi panggung syahwat.

Ketua panitia, Muhammad Hadianto, dengan ringan mengaku bahwa hiburan tersebut hanya untuk “menghibur panitia”. Pernyataan ini bukan sekadar tidak masuk akal, tetapi menghina kecerdasan umat. Jika hanya untuk panitia, mengapa publik dibiarkan menonton? Mengapa simbol Islam tetap dibiarkan berdiri sebagai legitimasi visual?

Aktivis Filsafat Logika Berpikir, Raden Teguh Firmansyah, menyebut peristiwa ini sebagai kejahatan logika berkedok agama.

“Ini logika penyesat yang mengaku Islam. Agama dijadikan pembuka acara, lalu dihina di penutupnya. Ini bukan kesalahan teknis, ini kesesatan berpikir yang disengaja,” tegas Raden Teguh Firmansyah.

Menurutnya, pornografi yang dipentaskan di bawah simbol Islam adalah bentuk kemunafikan struktural, di mana agama dipakai sebagai banner pembenaran, bukan sebagai nilai yang dijaga.

“Isro Mi’raj adalah peristiwa penyucian jiwa. Tapi di Songgon, ia dijadikan karpet merah bagi nafsu tontonan. Ini bukan Islam yang hidup, ini Islam yang diperalat,” lanjutnya.

Raden Teguh menegaskan bahwa mencampuradukkan ibadah dengan hiburan cabul adalah ciri masyarakat yang kehilangan kompas moral, namun masih ingin terlihat religius. Ini bukan budaya, ini krisis iman dan akal.

“Jika agama masih dijadikan dekorasi panggung maksiat, maka jangan heran jika umat tumbuh tanpa rasa malu. Yang dirusak bukan hanya acara, tapi cara berpikir generasi,” tandasnya.

Ia mendesak tokoh agama, pemerintah kecamatan, dan aparat berwenang untuk tidak bersembunyi di balik dalih “kearifan lokal” atau “hiburan rakyat”. Tidak ada kearifan dalam pornografi, tidak ada hiburan dalam pelecehan simbol suci.

Peristiwa Songgon harus dicatat sebagai peringatan keras, ketika agama hanya dijadikan pembuka seremoni, ketika lafadz Islam dijadikan properti panggung, dan ketika maksiat diberi ruang di balik klaim keimanan, maka yang lahir bukan peradaban, melainkan kemunafikan berjamaah.

“Isro Mi’raj bukan panggung dangdut. Agama bukan dekorasi. Dan iman bukan alat pembenar nafsu.”tutup Raden Teguh Firmansyah aktivis Filsafat Logika Berpikir.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

List

Diskusi Kebangsaan Bersama Bupati Banyuwangi, Tegaskan Keterbukaan dan Kepatuhan pada Aturan

Banyuwangi, 26 Februari 2026 -Times Merah putih.com//Suasana hangat namun penuh keseriusan terasa di Rumah Kebangsaan Banyuwangi saat digelar diskusi bersama ...

Safari Ramadhan di Masjid Jami Baiturrahman Dadapan Berlangsung Sukses, Diisi Pembagian Sembako dan Layanan Kesehatan Gratis

Banyuwangi –Times Merah putih.com//tgl  26 Febuari 2026. Kegiatan Safari Ramadhan yang dirangkai dengan pembagian sembako untuk kaum dhuafa serta layanan ...

Polresta Sorong Kota Bagikan 200 Takjil kepada Pengguna Jalan, Wujud Kedekatan Polri dengan Masyarakat

Kota Sorong PBD -Times merah putih.com//Dalam rangka mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat di bulan suci Ramadhan, Polresta Sorong Kota ...

MAKI Jatim Nandur Becik di Hari Kedelapan Bagi 1000 Tajil di By Pass Juanda, Merajut Berkah Raih HidayahNya

Sidoarjo, 26 Februari 2026 – Ramadhan adalah musim di mana langit terasa lebih dekat dan doa-doa melayang lebih ringan. Ia ...

Sat Samapta Polres Klungkung Berbagi Takjil, Pererat Silaturahmi di Bulan Ramadhan

Klungkung –Times merah putih.com//Dalam rangka menyemarakkan Bulan Suci Ramadhan 1447 H / 2026 M, Satuan Samapta Polres Klungkung menggelar kegiatan ...

Kasatlantas Polres Bojonegoro Cek Kelayakan Ranmor dan Randis, Pastikan Armada Siap Layani Masyarakat

Bojonegoro –Times Merah putih.com//Dalam rangka menunjang performa serta memastikan kelayakan kendaraan operasional, Polres Bojonegoro melalui Satuan Lalu Lintas (Satlantas) melaksanakan ...
error: Content is protected !!