SURABAYA- BKKBN- Times merah putih.com//Komitmen memperkuat fondasi karakter, kepemimpinan, dan pola pikir kritis Aparatur Sipil Negara (ASN) kembali ditegaskan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN melalui kegiatan bertajuk Penguatan Karakter, Kepemimpinan dan Pola Pikir Kritis pada ASN dalam Mendorong Transformasi Layanan Publik.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh BKKBN Perwakilan Provinsi Jawa Timur ini berlangsung di Prigen, Kabupaten Pasuruan, pada 12–13 Februari 2026, dan diikuti seluruh ASN Kemendukbangga/BKKBN Jawa Timur, perwakilan Dharma Wanita Persatuan, penyuluh KB, serta mitra kerja strategis.
Acara dibuka oleh Plh. Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur, Sukamto, S.E., M.Si., dan menghadirkan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak sebagai keynote speaker.
Dalam paparannya, Emil menegaskan bahwa transformasi layanan publik tidak akan lahir dari pola kepemimpinan yang sempit dan serba mengatur secara detail (micromanaging).
“Kreativitas bukan berarti hasilnya harus selalu berbeda, tetapi bagaimana memahami tujuan dan menjalankannya dengan tepat,” tegas Emil.
Ia mencontohkan bahwa kepemimpinan yang terlalu mengatur hingga hal teknis terkecil justru berpotensi mematikan inisiatif pegawai. Menurutnya, yang terpenting adalah kejelasan tujuan, kepatuhan terhadap aturan, serta standar yang dijaga sementara ruang inovasi harus tetap terbuka.
Emil bahkan menyoroti bahwa pola mikro-manajemen lambat laun akan tergeser oleh kecerdasan buatan (AI), yang memang bekerja berbasis instruksi sangat spesifik. Namun memimpin manusia membutuhkan empati, kreativitas, dan sentuhan kemanusiaan.
“AI bekerja berdasarkan instruksi. Tapi manusia membutuhkan makna, ruang berpikir, dan empati. Di situlah peran pemimpin,” ujarnya.
Lebih jauh, Emil mengingatkan bahwa ASN adalah garda depan pelayanan publik yang berhadapan langsung dengan kompleksitas masyarakat. Terutama bagi penyuluh KB yang lebih banyak menerapkan sistem jemput bola ketimbang pelayanan di balik loket.
“Kalau kita duduk di loket, masyarakat menyesuaikan diri dengan sistem. Tapi kalau jemput bola, ASN harus membuka komunikasi, menjelaskan secara persuasif, dan memahami kondisi warga. Di situ ada kepemimpinan, ada pola pikir kritis, ada kreativitas,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa ASN harus menjadi problem solver, bukan bagian dari persoalan.
“Kita hadir untuk memecahkan masalah. Jangan sampai masalah menjadi uang. Itu yang berbahaya,” tegasnya.
Dalam menghadapi masyarakat dengan latar belakang sosial, psikologis, dan kultural yang beragam, sikap humanis menjadi kunci. Emil mengingatkan pentingnya kesabaran, senyum, dan komunikasi yang santun meski dalam posisi benar.
Sementara itu, Sukamto menegaskan bahwa penguatan karakter bukan sekadar tema kegiatan, melainkan kebutuhan strategis organisasi dalam menjawab tantangan zaman, termasuk implementasi program prioritas nasional seperti Program Makan Bergizi Gratis.
“Kepemimpinan hari ini menuntut inovasi, kreativitas, dan keberanian mengambil risiko untuk tujuan organisasi. Tema ini memang tinggi, tetapi sangat relevan dengan tantangan yang kita hadapi,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh ASN melakukan refleksi terhadap gaya kepemimpinan masing-masing apakah strategis, otoriter, delegatif, demokratis, atau transaksional dan mendorong transformasi menuju kepemimpinan yang adaptif dan solutif.
Sukamto juga menekankan bahwa pola pikir kritis harus berbasis data dan aturan, bukan sekadar opini. “Kritis boleh, tetapi harus ada dasar. Konsultasikan jika ragu. Disiplin tetap menjadi fondasi,” tegasnya.
Menurutnya, kepemimpinan sejatinya dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga. Dari keluarga akan lahir generasi berkualitas yang menopang visi besar pembangunan nasional.
Melalui kegiatan ini, seluruh ASN di lingkungan BKKBN Jawa Timur diharapkan semakin siap mengimplementasikan Perpres Nomor 115 Tahun 2025 serta mempercepat transformasi layanan publik yang adaptif terhadap perubahan, humanis dalam pendekatan, dan berorientasi pada solusi nyata bagi masyarakat.
Penguatan karakter, kepemimpinan, dan pola pikir kritis bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Di tengah tuntutan publik yang semakin kompleks, ASN dituntut bukan hanya patuh pada prosedur, tetapi mampu berpikir tajam, bertindak bijak, dan melayani dengan hati.
Transformasi layanan publik dimulai dari transformasi cara berpikir. Dan perubahan besar selalu lahir dari keberanian untuk memimpin dengan karakter.
Reporter ( NURSALIM )














