Surabaya, 12 Maret 2026 — Ramadan bukan sekadar bulan ibadah yang hadir setiap tahun dalam putaran waktu. Ia adalah panggilan sunyi dari Tuhan kepada manusia agar kembali menyadari hakikat dirinya. Sebab dalam perjalanan hidup yang sering dipenuhi ambisi dunia, manusia kerap lupa bahwa segala yang dimiliki hanyalah titipan yang suatu saat akan diminta pertanggungjawabannya.
Bulan suci ini mengajarkan satu pelajaran mendasar: bahwa manusia tidak diciptakan hanya untuk mengumpulkan, tetapi untuk memberi. Tidak untuk menumpuk kepentingan pribadi, tetapi untuk menghadirkan manfaat bagi kehidupan di sekitarnya.
Dalam pandangan makrifat, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan ruhani untuk menundukkan ego, membersihkan hati, serta menyadarkan manusia bahwa hakikat kekayaan bukan terletak pada apa yang dimiliki, melainkan pada seberapa besar ia mampu berbagi.
Kesadaran inilah yang sering kali melahirkan tindakan-tindakan sederhana, namun memiliki makna yang dalam bagi kemanusiaan.
Sore itu, di kawasan Jalan By Pass Juanda, Sidoarjo, tepatnya di depan Klinik Sheila Medika, arus kendaraan mengalir seperti biasa. Para pekerja pulang setelah menjalani aktivitas panjang. Kota bergerak dalam ritmenya yang cepat, seolah tak pernah memberi ruang bagi manusia untuk berhenti sejenak dan merenung.
Namun di tengah kesibukan itu, hadir sebuah pemandangan yang mengingatkan kembali pada makna hidup yang sering terlupakan.
Relawan dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur berdiri di tepi jalan, membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang tengah menanti waktu berbuka puasa.
Paket-paket sederhana itu diberikan kepada para pengendara, pekerja jalanan, hingga masyarakat yang melintas. Tidak ada kemegahan dalam kegiatan tersebut.
Hanya senyum tulus dan tangan yang terbuka.
Namun justru di situlah nilai kemanusiaan menemukan hakikatnya.
Dalam kehidupan sosial, memberi sering dianggap sebagai tindakan kecil. Padahal dalam pandangan hakikat, memberi adalah bentuk kesadaran tertinggi bahwa manusia hanyalah perantara dari rezeki yang Allah titipkan.
Apa yang diberikan hari ini sejatinya bukan milik manusia. Ia hanyalah amanah yang sedang berjalan dari satu tangan ke tangan lainnya.
Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menjelaskan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Baginya, rasa syukur tidak cukup berhenti pada ucapan. Syukur harus menjelma menjadi tindakan yang membawa manfaat bagi orang lain.
“Ramadan adalah waktu yang mengingatkan kita bahwa nikmat yang kita terima harus dibagikan. Ketika kita mampu memberi, di situlah rasa syukur menemukan maknanya,” ungkapnya.
Bagi MAKI, kegiatan ini juga memiliki dimensi moral yang lebih luas. Sebagai organisasi yang dikenal konsisten menyuarakan semangat melawan korupsi, mereka percaya bahwa perubahan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh hukum, tetapi oleh kesadaran hati manusia.
Korupsi pada hakikatnya lahir dari hati yang dikuasai keserakahan. Sementara kepedulian sosial lahir dari hati yang memahami bahwa kehidupan adalah amanah yang harus dijaga dengan kejujuran dan tanggung jawab.
Menjelang waktu berbuka puasa, langit perlahan berubah warna. Semburat jingga senja menyelimuti kota dengan suasana yang tenang. Di bawah langit itu, para relawan masih terus membagikan ta’jil kepada para pengendara yang melintas.
Beberapa pengendara tersenyum. Sebagian mengucapkan terima kasih.
Tidak ada perayaan besar. Tidak ada panggung megah.
Namun di balik kesederhanaan itu, ada sebuah pelajaran yang sering terlupakan oleh manusia modern: bahwa kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekadar kata-kata.
Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang ibadah antara manusia dan Tuhannya. Ia juga tentang bagaimana manusia memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.
Sebab dalam pandangan hakikat, kemuliaan seseorang tidak diukur dari kekayaan yang dimilikinya, tetapi dari seberapa besar ia mampu menghadirkan manfaat bagi kehidupan di sekitarnya.
Dan di persimpangan jalan By Pass Juanda sore itu, sebuah kebenaran sederhana kembali terasa nyata:
bahwa tangan yang memberi sejatinya sedang menemukan jalan pulang menuju Tuhan.
Karena setiap kebaikan yang lahir dari hati yang ikhlas adalah cahaya kecil yang akan menerangi perjalanan manusia menuju keabadian. (Wwn)










