SIDOARJO – Keberhasilan Persida Sidoarjo menembus babak 8 besar Liga 4 PSSI bukan sekadar catatan prestasi olahraga. Ia adalah indikator kemampuan daerah mengelola potensi, sekaligus ujian nyata keberpihakan pemerintah daerah terhadap pembinaan sepak bola. Pada titik ini, Persida berdiri di antara kebanggaan publik dan kebutuhan dukungan struktural yang tak bisa lagi ditunda.
Capaian Persida terasa signifikan karena diraih dalam kondisi keterbatasan pendanaan. Di bawah kepemimpinan Puji Daryo, Ketua Askab PSSI Kabupaten Sidoarjo, tim ini dibangun melalui konsolidasi manajemen, pembinaan pemain, dan efisiensi anggaran. Hasilnya konkret: Persida menjadi salah satu tim yang berhasil melaju ke fase 8 besar Liga 4 panggung krusial menuju level kompetisi yang lebih tinggi.
“Pemain dalam kondisi siap dan fokus. Kami sadar tantangan ke depan jauh lebih berat, tetapi Persida tidak datang sebagai penggembira,” ujar Puji Daryo.
Fakta lain yang tak bisa diabaikan adalah dukungan publik. Basis suporter Persida tercatat telah menembus lebih dari 5.000 orang dalam pendataan awal, dan diproyeksikan terus bertambah. Ini menunjukkan Persida bukan klub elitis, melainkan entitas sosial yang hidup dan mendapat legitimasi masyarakat.
Namun, sepak bola modern menuntut lebih dari sekadar semangat dan loyalitas. Memasuki babak 8 besar yang dijadwalkan berlangsung Juni 2026, Persida membutuhkan peningkatan kualitas teknis, kedalaman skuad, serta manajemen profesional. Di sinilah peran Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menjadi krusial.
Dukungan pemerintah daerah bukan hanya soal kehadiran simbolik, melainkan kebijakan konkretmulai dari fasilitasi sarana, dukungan pembinaan, hingga membuka akses sponsor strategis melalui skema CSR perusahaan. Ruang ini secara administratif dan politis berada dalam domain kepala daerah.
Puji Daryo menyampaikan harapan secara terbuka agar Bupati Sidoarjo memberikan perhatian lebih serius terhadap Persida. Harapan itu dinilai wajar, mengingat sepak bola telah menjadi bagian dari identitas sosial daerah dan memiliki dampak ekonomi, kultural, serta kebanggaan kolektif.
Saat ini, Askab PSSI Sidoarjo juga tengah melakukan penataan administrasi dan ekosistem suporter, sebagai bagian dari langkah profesionalisasi klub. Selain itu, rencana menghadirkan pelatih khusus melalui program training center telah disiapkan untuk meningkatkan kualitas permainan menghadapi fase krusial kompetisi.
Persida telah membuktikan kapasitasnya di lapangan. Kini, bola berada di tangan pemerintah daerah. Apakah momentum ini akan dimanfaatkan untuk membangun fondasi sepak bola Sidoarjo yang berkelanjutan, atau kembali dibiarkan berjalan sendiri seperti masa lalu.
Dalam olahraga, sejarah tidak hanya ditentukan oleh siapa yang bertanding, tetapi juga oleh siapa yang memilih hadir ketika peluang terbuka. Persida telah melangkah sejauh ini.
Keputusan berikutnya akan menentukan apakah langkah itu berujung pada lonjakan prestasi atau sekadar menjadi kisah nyaris berhasil. (Bagas)











