BANYUWANGI, 30 Oktober 2026 – Di tengah kemeriahan gelaran The Biggest Culture of Jatim with UKM/UMKM & Ekraf Fiesta 2026 yang menghadirkan beragam pertunjukan seni, budaya, dan aktivitas ekonomi kreatif, sebuah kegiatan sederhana di Pancoran Park, Karangbendo, Rogojampi, Banyuwangi, justru membawa pesan besar tentang masa depan generasi muda. Bukan melalui panggung pertunjukan ataupun gemerlap hiburan, melainkan melalui lembaran gambar, krayon warna-warni, dan imajinasi anak-anak.
Jumat (30/10/2026), mulai pukul 09.00 WIB, ratusan anak dari jenjang Play Group (PG), Taman Kanak-Kanak (TK), hingga Sekolah Dasar (SD) kelas 1–3 dijadwalkan mengikuti Lomba Mewarnai bertajuk COLOUR YOUR DREAM. Kegiatan yang diselenggarakan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur, berkolaborasi dengan PG Pancoran Group, dan Pemerintah Provinsi Jatim Timur tersebut membuka kesempatan berpartisipasi secara gratis bagi masyarakat umum.
Di balik aktivitas yang tampak sederhana itu, tersimpan sebuah gagasan pendidikan dan kebudayaan yang memiliki relevansi jangka panjang: membangun kreativitas sejak usia dini, menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya daerah, sekaligus memperluas akses anak-anak terhadap ruang ekspresi dan apresiasi.
Ketua MAKI Jawa Timur, Heru Satriyo, menegaskan bahwa lomba mewarnai tersebut tidak dirancang sekadar sebagai kegiatan pendamping untuk memeriahkan festival. Menurutnya, kreativitas anak merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan industri ekonomi kreatif dan pelestarian identitas budaya daerah.
“Sering kali ekonomi kreatif hanya dipahami dari sisi pasar, transaksi, omzet, dan besarnya perputaran ekonomi. Padahal, ada fondasi yang jauh lebih mendasar, yakni kreativitas manusia. Dari sanalah seluruh ekosistem ekonomi kreatif bermula. Jika sejak dini anak-anak tidak diberi ruang untuk mengenali, mencintai, dan mengekspresikan kebudayaannya sendiri, kita harus bertanya siapa yang akan menjaga identitas budaya daerah ini pada masa mendatang,” ujar Heru.
Pilihan tema Gandrung dalam lomba tersebut menjadi pesan tersendiri. Anak-anak tidak diarahkan sekadar menyalin warna dari karakter populer, tetapi diajak mengenal salah satu representasi penting kebudayaan Banyuwangi melalui aktivitas seni yang sesuai dengan dunia mereka.
Pendekatan ini menempatkan pendidikan kebudayaan dalam ruang yang menyenangkan. Anak-anak diperkenalkan pada identitas lokal bukan melalui instruksi yang kaku, melainkan melalui pengalaman langsung, imajinasi, dan kebebasan berekspresi. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti sebagai slogan seremonial, tetapi mulai diperkenalkan sebagai pengalaman sejak usia dini.
Lebih jauh, kegiatan ini juga mencerminkan pentingnya membangun fondasi sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Kreativitas, keberanian berekspresi, ketelitian, kemampuan mengenali warna, serta kepekaan terhadap lingkungan budaya merupakan bagian dari proses pembentukan karakter dan potensi anak.
Dalam pelaksanaannya, panitia menetapkan empat aspek utama penilaian, yakni kesesuaian tema, kombinasi warna, kerapian, dan kreativitas. Keempat indikator tersebut memberikan ruang bagi anak untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya tanpa menghilangkan esensi utama kegiatan, yaitu pembelajaran dan pengembangan potensi.
Keputusan penyelenggara untuk membuka pendaftaran secara GRATIS bagi masyarakat umum juga memiliki dimensi sosial yang penting. Kebijakan ini memperluas kesempatan partisipasi tanpa menjadikan kemampuan ekonomi keluarga sebagai penghalang bagi anak untuk memperoleh pengalaman berkompetisi dan diapresiasi.
“Dengan menggratiskan pendaftaran, kami ingin memastikan bahwa kesempatan berkarya tidak dibatasi oleh latar belakang ekonomi keluarga. Anak seorang petani, pedagang, pekerja, maupun pejabat harus memiliki ruang dan kesempatan yang sama untuk menunjukkan kreativitasnya. Di hadapan kertas gambar, setiap anak memiliki martabat, kesempatan, dan hak yang sama untuk berkembang,” tegas Heru Satriyo.
Dari perspektif penyelenggaraan festival, kegiatan ini juga mempunyai keterkaitan langsung dengan penguatan ekosistem ekonomi masyarakat. Kehadiran peserta yang didampingi orang tua berpotensi meningkatkan aktivitas pengunjung di kawasan Pancoran Park. Waktu tunggu selama kegiatan dapat menjadi peluang interaksi ekonomi antara keluarga peserta dengan para pelaku usaha yang mengisi 64 stan UKM/UMKM dan ekonomi kreatif dalam rangkaian Fiesta 2026.
Dengan demikian, kegiatan anak-anak tidak hanya menghadirkan nilai edukasi dan kebudayaan, tetapi juga membuka ruang pertemuan antara keluarga, komunitas, pelaku usaha, dan penyelenggara festival. Inilah gambaran keterhubungan antara pengembangan kreativitas, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi lokal yang perlu terus diperkuat.
Panitia juga menyiapkan penghargaan berupa piala dan uang pembinaan dari MAKI Jawa Timur bagi Juara I, II, dan III. Apresiasi tersebut diharapkan menjadi pengalaman positif sekaligus motivasi bagi anak-anak untuk terus mengembangkan bakat dan keberanian dalam berkarya.
Pelaksanaan lomba di Pancoran Park, kawasan Karangbendo, Rogojampi, sekaligus memperlihatkan bahwa aktivitas kebudayaan dan pengembangan ekonomi kreatif dapat tumbuh di luar pusat perkotaan. Kawasan penyangga dan wilayah perdesaan memiliki peluang yang sama untuk menjadi ruang tumbuh kegiatan edukatif, pariwisata, serta pemberdayaan masyarakat.
Semangat kegiatan ini juga sejalan dengan arah pembangunan Kabupaten Banyuwangi di bawah kepemimpinan Bupati Ipuk Fiestiandani dan Wakil Bupati Mujiono, khususnya dalam mendorong penguatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan pariwisata, dan pelestarian potensi lokal.
Bagi MAKI Jawa Timur dan seluruh mitra penyelenggara, COLOUR YOUR DREAM menjadi pengingat bahwa pembangunan masa depan tidak selalu harus dimulai melalui proyek besar atau investasi bernilai fantastis. Ada investasi yang jauh lebih mendasar, yakni memberikan ruang kepada anak-anak untuk belajar, berimajinasi, mengenali kebudayaannya, dan percaya terhadap kemampuan diri sendiri.
Sebab, masa depan Banyuwangi tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak destinasi wisata dibangun, seberapa besar investasi masuk, atau seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi dicapai. Masa depan juga ditentukan oleh bagaimana generasi mudanya mengenali akar kebudayaan, mengembangkan kreativitas, dan mampu menjadikan identitas lokal sebagai kekuatan untuk menghadapi perubahan zaman.
Sebagaimana pesan yang ingin dibawa melalui kegiatan ini, warna yang hari ini ditorehkan anak-anak pada gambar Gandrung bukan sekadar perpaduan pigmen di atas kertas. Ia merupakan simbol awal dari proses mengenal budaya, membangun karakter, dan menumbuhkan harapan.
Karena generasi emas tidak lahir hanya dari ruang-ruang kompetisi yang megah. Generasi emas tumbuh ketika setiap anak memperoleh kesempatan untuk bermimpi, berkarya, dan dihargai. Dan di Pancoran Park, mimpi itu dimulai dari sebatang krayon dan selembar gambar Gandrung.(Bagas)











