SIDOARJO – Malam Nisfu Sya’ban 1447 Hijriah turun laksana hamparan cahaya ilahi, mengajak setiap jiwa berdiam sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Malam yang diyakini sebagai waktu pengangkatan catatan amal ini bukan sekadar persinggahan kalender ruhani, melainkan undangan langsung dari langit untuk membersihkan hati dan meluruskan niat. Dalam suasana sakral tersebut, LSM Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menyampaikan pesan spiritual yang menggugah nurani: bahwa integritas adalah buah dari iman yang hidup dan taubat yang sungguh-sungguh.
MAKI Jatim memaknai Nisfu Sya’ban sebagai malam muhasabah akbar, saat manusia diajak menundukkan ego dan menatap diri dengan kejujuran paling dalam. Di hadapan keagungan Allah SWT, tidak ada yang tersembunyi baik niat, sikap, maupun amanah yang selama ini diemban.
Oleh karena itu, Nisfu Sya’ban dipandang sebagai momentum ilahiah untuk menimbang kembali sejauh mana kejujuran telah menjadi napas dalam kehidupan pribadi, sosial, dan kebangsaan.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, S.Ip, menegaskan bahwa pesan paling agung dari Nisfu Sya’ban adalah keberanian spiritual untuk bertobat secara utuh bukan hanya dengan lisan, tetapi melalui perubahan sikap dan perilaku nyata.
Menurutnya, taubat sejati akan melahirkan integritas, dan integritas adalah tanda bahwa iman telah berakar kuat dalam jiwa.
“Nisfu Sya’ban adalah malam ketika langit membuka pintu ampunan dan hati manusia diuji kejujurannya. Taubat tidak cukup hanya dengan doa, tetapi harus diwujudkan dalam keberanian meninggalkan kebohongan dan pengkhianatan amanah. Di situlah integritas menjadi jalan menuju kesalehan sosial,” tutur Heru dengan nada reflektif.
Dalam perspektif MAKI Jatim, korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan penyakit ruhani yang lahir dari rapuhnya iman dan matinya rasa takut kepada Allah. Karena itu, pemberantasan korupsi tidak dapat dilepaskan dari pembinaan moral dan spiritual. Kesalehan ritual shalat, doa, dan zikir harus bertransformasi menjadi kesalehan sosial berupa kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab dalam setiap amanah yang dipikul.
MAKI Jatim juga mengajak masyarakat menjadikan Nisfu Sya’ban sebagai malam memperbarui ikrar kemanusiaan: memperkuat ukhuwah, menumbuhkan empati, dan merawat kepedulian terhadap sesama. Di tengah zaman yang kerap menggerus nurani, malam ini diharapkan menjadi mata air kesadaran kolektif untuk kembali menjunjung nilai-nilai luhur agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menutup renungan spiritualnya, Keluarga Besar MAKI Jatim memanjatkan doa agar Allah SWT menurunkan rahmat, ampunan, dan keberkahan-Nya kepada seluruh umat Islam, khususnya di Jawa Timur. Semoga Malam Nisfu Sya’ban 1447 Hijriah ini menjadi titik balik ruhani melahirkan insan-insan yang bersih hatinya, lurus niatnya, dan kokoh integritasnya sebagai bekal menyongsong Ramadan dan membangun bangsa yang diridhai Allah SWT. (Bagas)











