Surabaya — Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang proses belajar di ruang kelas, melainkan tentang bagaimana ilmu yang diperoleh mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Dalam konteks itulah Expo Expose SMK Jawa Timur 2026 menjadi momentum strategis penguatan pendidikan vokasi di Jawa Timur.
Diselenggarakan di Exhibition Hall Grand City Surabaya, kegiatan ini mempertemukan ratusan SMK dengan dunia usaha dan dunia industri dalam satu ruang kolaboratif. Expo ini bukan sekadar ajang pamer karya siswa, melainkan forum edukatif yang memperlihatkan bagaimana pendidikan vokasi dirancang selaras dengan kebutuhan pasar kerja dan perkembangan teknologi.
Direktur SMK Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Arie Wibowo Khurniawan, menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pendidikan vokasi harus jelas dan terukur.
“Ukuran keberhasilan pendidikan vokasi adalah employability. Ending dari seluruh proses pendidikan vokatif adalah seberapa kuat lulusan kita diterima dan berkontribusi di dunia kerja serta dunia industri.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendidikan vokasi berorientasi pada kompetensi yang aplikatif. Kurikulum tidak hanya disusun berdasarkan standar akademik, tetapi juga diselaraskan dengan kebutuhan industri, perkembangan teknologi, dan dinamika ekonomi global.
Dalam kunjungan langsungnya ke berbagai SMK di Jawa Timur, ia melihat implementasi teaching factory dan teaching industry yang berjalan kompetitif. Model pembelajaran ini memungkinkan siswa belajar melalui proses produksi nyata, dengan standar mutu yang sesuai industri. Dengan demikian, lulusan SMK tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga etos kerja, kedisiplinan, serta kemampuan problem solving.
Transformasi pendidikan vokasi di Jawa Timur diperkuat oleh dukungan pemerintah pusat. Pada tahun 2025, sebanyak 472 SMK menerima bantuan dengan total anggaran Rp430 miliar. Bantuan tersebut difokuskan pada revitalisasi sarana praktik, digitalisasi pembelajaran, serta penguatan kemitraan dengan industri.
Revitalisasi ini menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa fasilitas praktik di SMK mengikuti standar teknologi terkini. Digitalisasi pembelajaran juga mempercepat adaptasi siswa terhadap sistem kerja modern yang berbasis otomasi dan teknologi informasi.
Dengan dukungan tersebut, SMK di Jawa Timur semakin memiliki kapasitas untuk melahirkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan siap bersaing.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menekankan bahwa SMK memiliki posisi sentral dalam membangun kekuatan ekonomi daerah.
“Kita ingin memastikan bahwa anak-anak SMK Jawa Timur tidak hanya lulus, tetapi langsung siap kerja, siap berwirausaha, bahkan siap menciptakan lapangan pekerjaan.”
Dalam perspektif pendidikan, pernyataan ini menunjukkan bahwa SMK berperan sebagai institusi pencetak sumber daya manusia produktif. Pendidikan vokasi tidak hanya menyiapkan tenaga kerja, tetapi juga mendorong kewirausahaan berbasis kompetensi.
Kolaborasi menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan. Kemitraan antara sekolah dan industri memungkinkan sinkronisasi kurikulum, program magang yang relevan, hingga peluang rekrutmen langsung bagi lulusan.
Expo Expose ini memperlihatkan bagaimana sekolah, pemerintah, dan industri membentuk ekosistem pendidikan yang terintegrasi. Siswa tidak hanya memamerkan produk, tetapi juga mempresentasikan proses pembelajaran di baliknya mulai dari perencanaan, desain, produksi, hingga evaluasi kualitas.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pendidikan vokasi di Jawa Timur telah bergerak dari sekadar transfer pengetahuan menjadi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Siswa belajar dengan mengerjakan, memproduksi, dan memecahkan masalah nyata.
Dengan jumlah SMK dan peserta didik yang besar, Jawa Timur memiliki potensi kuat menjadi model nasional pendidikan vokasi. Konsistensi kualitas, penguatan jejaring industri, serta inovasi berkelanjutan menjadi kunci agar transformasi ini tidak berhenti sebagai program, tetapi menjadi sistem yang mapan.
Penutupan Expo & Expose SMK Jawa Timur 2026 bukanlah akhir, melainkan refleksi atas capaian sekaligus komitmen untuk langkah berikutnya. Pendidikan vokasi harus terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai kedisiplinan, integritas, dan profesionalisme.
Pada akhirnya, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang relevan dan berdampak. Dan melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sekolah, dan industri, SMK Jawa Timur menunjukkan bahwa pendidikan vokasi dapat menjadi jembatan kokoh antara dunia pendidikan dan dunia kerja mewujudkan generasi yang kompeten, produktif, dan siap membangun masa depan bangsa. (Bagas)














