SURABAYA, 24 Februari 2026 — Ramadhan kembali menyapa sebagai madrasah ruhani, menghadirkan jeda di tengah riuhnya kehidupan dunia. Di hari ke-enam yang penuh keberkahan, suasana Surabaya tak hanya dipenuhi lalu lalang kendaraan dan hiruk-pikuk aktivitas kota, tetapi juga getar iman yang lembut, menyelinap ke dalam hati yang merindu ketenangan.
Di bawah langit senja yang perlahan meredup di sepanjang Jalan Raya Ahmad Yani tepat di depan Kantor Dinas Peternakan Jawa Timur sejumlah relawan dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur berdiri dengan wajah teduh. Tangan-tangan mereka membawa amanah: seribu paket ta’jil untuk para pengendara, pekerja, dan warga yang masih berada di perjalanan menjelang waktu berbuka.
Senyum tulus menyertai setiap bingkisan yang diberikan. Tidak ada sekat antara pemberi dan penerima; yang ada hanyalah rasa persaudaraan dalam naungan Ramadhan.
Sebanyak 250 paket sayur manisah bersantan tahu, tempe, dan cecek; 250 paket kurma; 250 botol es sirup melon dengan isian blewah; serta 250 paket gorengan berisi donat, ote-ote, tahu isi, dan dadar jagung empat jenis dalam setiap kemasan dibagikan dengan tertib dan penuh kehangatan. Di mata yang menerima, terpancar syukur. Di hati yang memberi, bersemayam keikhlasan.
Setiap paket yang berpindah tangan seakan diiringi doa lirih. Angin senja berembus pelan, membawa kesejukan yang tak hanya terasa di kulit, tetapi juga menyentuh batin. Ramadhan, sekali lagi, menunjukkan wajahnya yang paling indah: menyatukan manusia dalam kesadaran bahwa hidup adalah perjalanan menuju-Nya.
Namun hakikat Ramadhan tidak berhenti pada pembagian makanan. Ia menembus kedalaman jiwa, mengajarkan bahwa memberi bukan sekadar tindakan sosial, melainkan ibadah yang menghidupkan kesadaran kehambaan. Dalam pandangan iman, harta hanyalah titipan, dan manusia hanyalah pengelola sementara atas amanah Allah SWT.
Puasa melatih kesabaran, menahan diri dari yang halal demi ketaatan. Berbagi menumbuhkan keikhlasan, melepaskan sebagian yang dimiliki demi kemaslahatan. Ketika keduanya berpadu, lahirlah pemahaman yang jernih: hidup bukan tentang menumpuk sebanyak-banyaknya, melainkan memaknai sedalam-dalamnya.
Lapar yang ditahan sepanjang hari melembutkan hati agar mampu merasakan getirnya kekurangan orang lain. Dahaga yang dijaga menjadi jembatan empati, agar manusia tidak abai terhadap derita sesama. Dari situlah tumbuh kasih sayang yang murni kasih sayang yang berakar pada iman.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menegaskan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan wujud syukur atas nikmat Allah SWT.
“Syukur tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus menjelma dalam tindakan nyata. Setiap kesempatan berbagi adalah panggilan Ilahi. Allah memilih sebagian hamba-Nya menjadi perantara rahmat bagi yang lain,” ujarnya.
Sebagai lembaga yang konsisten menyerukan integritas dan keadilan, MAKI memaknai Ramadhan bukan sekadar momentum ritual, tetapi cermin besar bagi jiwa. Dalam perspektif spiritual, korupsi bukan hanya pelanggaran hukum, melainkan penyakit hati lupa bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui segala yang tersembunyi.
Ketika kesadaran ketuhanan hidup dalam setiap langkah, integritas tidak lagi terasa sebagai beban. Ia tumbuh alami sebagai buah dari ketakwaan. Ramadhan menjadi ruang penyucian batin, tempat manusia menata ulang niat, memperbarui komitmen moral, dan meneguhkan janji untuk hidup lebih jujur baik dalam ranah pribadi maupun kebangsaan.
Menjelang adzan Maghrib, langit Surabaya berpendar jingga keemasan. Wajah-wajah yang menerima ta’jil memancarkan kebahagiaan sederhana. Barangkali yang mereka terima hanyalah hidangan berbuka, tetapi yang mereka rasakan adalah perhatian dan cinta kasih dari sesama.
Di situlah kemuliaan manusia menemukan maknanya: bukan pada apa yang ia miliki, melainkan pada apa yang ia relakan dengan ikhlas.
Ramadhan mengingatkan bahwa segala yang ada pada kita berasal dari-Nya dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Maka di antara derap langkah senja dan doa-doa yang terangkat ke langit, terselip pesan agung yang tak lekang oleh waktu:
Bahwa berbagi adalah cahaya.
Bahwa keikhlasan adalah jalan keselamatan.
Dan bahwa kemanusiaan yang berakar pada iman akan selalu menemukan jalan menuju ridha-Nya. (Bagas)














