JEMBER – Dunia inovasi pangan nasional kembali mendapat suntikan ide segar dari generasi muda. Mahasiswa Politeknik Negeri Jember (Polije) berhasil menciptakan produk mie sehat berbahan dasar limbah kulit singkong bernama Miona, sebuah terobosan yang kini ramai diperbincangkan karena dinilai mampu membuka babak baru industri pangan berbasis ekonomi hijau dan ramah lingkungan di Indonesia.
Inovasi tersebut tidak hanya menarik perhatian masyarakat dan pelaku UMKM, tetapi juga mendapat apresiasi tinggi dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur. Organisasi tersebut menilai Miona sebagai bentuk nyata keberhasilan anak muda dalam mengubah limbah pertanian menjadi produk modern bernilai ekonomi tinggi yang memiliki peluang besar di pasar nasional.
Ketua MAKI Jawa Timur Koordinator Wilayah Provinsi Jawa Timur, Heru Satryo, bahkan menyebut Miona sebagai inovasi strategis yang dapat menjadi ikon baru pangan kreatif Indonesia apabila mendapat dukungan dan pendampingan yang tepat.
“Ini luar biasa. Anak-anak muda sudah mampu melihat limbah bukan sebagai sampah, melainkan sebagai peluang. Inovasi seperti Miona menunjukkan bahwa ketahanan pangan dan pengembangan ekonomi kreatif bisa dimulai dari bahan sederhana yang selama ini terabaikan. Ini harus didukung karena bisa menjadi contoh bagi daerah lain,” ujar Heru Satryo.
Produk Miona lahir dari keresahan mahasiswa terhadap banyaknya limbah kulit singkong hasil produksi tape di Kabupaten Jember. Sebagai salah satu daerah penghasil tape terbesar di Jawa Timur, limbah kulit singkong di wilayah tersebut selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan sebagian besar hanya dibuang begitu saja.
Mahasiswa penggagas Miona, Anggi, mengatakan bahwa ide pengolahan limbah kulit singkong muncul saat dirinya melihat potensi besar kandungan serat dan pati pada bagian dalam kulit singkong yang masih layak diolah menjadi produk pangan sehat.
“Melalui Miona, kami ingin mengembangkan inovasi sirkular agri industri. Jadi bahan yang biasanya dianggap limbah justru kami olah menjadi produk yang punya nilai jual. Jember terkenal dengan tape singkong, sehingga kulitnya melimpah dan sering dibuang. Dari situ kami berpikir bagaimana limbah ini bisa dimanfaatkan menjadi olahan yang sehat dan menarik,” jelas Anggi.
Ia menuturkan bahwa proses pengolahan dilakukan dengan standar keamanan yang ketat untuk memastikan produk aman dikonsumsi. Bagian kulit singkong yang digunakan hanya lapisan dalam, kemudian dicuci menggunakan campuran garam dan cuka untuk membantu mengurangi kandungan asam sianida.
Setelah melalui proses pencucian, perendaman, dan pembilasan berulang kali, bahan direbus selama sekitar satu jam sebelum dihaluskan menjadi adonan dasar mie sehat.
“Prosesnya cukup panjang karena kami harus memastikan kandungan asam sianida hilang. Setelah dicuci, direndam, dibilas berkali-kali, baru direbus dan dihaluskan. Dari situlah adonan mie kami buat. Kandungan kulit singkong sendiri ada kanji dan serat, jadi sangat cocok sebagai bahan dasar produk makanan sehat,” tambahnya.
Keunikan konsep Miona yang memadukan inovasi pangan sehat dengan pemanfaatan limbah membuat produk tersebut cepat menarik perhatian publik. Dalam berbagai pameran UMKM dan festival inovasi di Jember, Miona menjadi salah satu produk yang paling banyak diminati pengunjung karena dianggap berbeda dan memiliki nilai edukasi lingkungan.
Selain menawarkan konsep ramah lingkungan, Miona juga dinilai memiliki prospek pasar yang menjanjikan. Tren masyarakat yang mulai beralih ke makanan sehat membuka peluang besar bagi produk inovatif berbasis bahan lokal seperti Miona untuk berkembang lebih luas.
Saat ini, Miona dipasarkan dalam dua varian, yakni kemasan instan seharga Rp9.000 dan kemasan siap saji Rp12.000. Penjualan dilakukan melalui media sosial Instagram dan berbagai kegiatan bazar serta event kewirausahaan.
Heru Satryo menilai Jember memiliki peluang besar menjadi pusat pengembangan industri pangan kreatif berbasis singkong karena didukung bahan baku melimpah dan sumber daya manusia kreatif dari kalangan mahasiswa.
“Kalau produk seperti ini terus didampingi, bukan tidak mungkin menjadi ikon baru. Jember punya bahan baku melimpah, punya anak muda kreatif, tinggal bagaimana semua pihak mendukung agar inovasi ini bisa naik kelas menjadi produk unggulan nasional,” tegas Heru.
Ia juga menilai inovasi Miona sangat relevan dengan semangat pembangunan ekonomi hijau dan industri berkelanjutan karena mampu menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus mengurangi limbah pertanian yang selama ini menjadi persoalan lingkungan.
Melalui inovasi tersebut, Anggi dan tim berharap masyarakat Indonesia semakin terbuka terhadap pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi produk modern yang sehat dan bernilai tinggi. Mereka optimistis konsep pangan berbasis limbah seperti Miona dapat menjadi solusi masa depan bagi industri makanan nasional yang lebih berkelanjutan.
Inovasi mahasiswa Polije itu pun menjadi bukti bahwa kreativitas generasi muda Indonesia mampu melahirkan gagasan besar yang tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga lingkungan dan ketahanan pangan nasional. (Wwn)











