SIDOARJO, 27 Mei 2026 — Fajar Idul Adha 1447 Hijriah menyelimuti Perumahan Permata Alam Permai RW 05, Desa Gemurung, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, dengan suasana yang penuh kekhusyukan dan kedamaian. Gema takbir yang berkumandang dari Masjid Al Muhajirin sejak dini hari menghadirkan getaran spiritual yang menyentuh hati setiap muslim yang hadir.
Langit pagi yang masih lembut setelah gerimis tipis diterangi cahaya subuh menjadi saksi bagaimana ribuan jamaah berbondong-bondong menuju masjid dengan wajah penuh harap dan syukur. Sejak pukul 05.00 WIB, warga muslimin dan muslimat mulai memenuhi area masjid untuk menunaikan Sholat Idul Adha 1447 H yang dimulai tepat pukul 06.00 WIB.
Sholat Idul Adha dipimpin oleh Imam dan khotib Ustad H. Ihya Ulumuddin, M.Pd, dengan bilal Ustad Muhammad Avicienna. Sekitar seribu jamaah larut dalam suasana religius yang begitu mendalam. Takbir, tahmid, dan doa-doa yang dilantunkan seolah menyatukan hati seluruh jamaah dalam satu ikatan keimanan kepada Allah SWT.
Namun lebih dari sekadar pelaksanaan ibadah, khutbah Idul Adha pagi itu menghadirkan pelajaran kehidupan yang begitu menyentuh jiwa. Dalam khutbahnya, Ustad H. Ihya Ulumuddin mengangkat kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai cermin ketakwaan, keikhlasan, dan kepasrahan total seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Dengan suara penuh keteduhan, beliau mengisahkan bagaimana Nabi Ibrahim AS menerima perintah Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangannya sendiri, Nabi Ismail AS. Sebuah perintah yang secara logika manusia terasa begitu berat, bahkan sulit diterima oleh akal sehat.
Bagaimana mungkin seorang ayah yang begitu mencintai anaknya harus mengorbankan buah hatinya sendiri? Ismail bukan sekadar seorang anak bagi Nabi Ibrahim. Ia adalah cahaya kehidupan, penyejuk hati, dan harapan yang telah lama dinanti setelah bertahun-tahun memohon keturunan kepada Allah SWT.
Tetapi di situlah letak ujian keimanan yang sesungguhnya.
Nabi Ibrahim tidak mempertanyakan kehendak Allah. Ia tidak mendahulukan logika dan perasaannya di atas perintah Allah. Dengan hati yang penuh iman, beliau memilih tunduk dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT.
“Perintah Allah meskipun dalam situasi dan kondisi apapun harus tetap dijalankan,” tutur Ustad H. Ihya Ulumuddin di hadapan jamaah yang mendengarkan dengan penuh khidmat.
Kalimat sederhana itu menggema kuat di hati para jamaah. Sebab kehidupan manusia sering kali dipenuhi ujian yang tidak mudah dipahami. Ada masa ketika manusia diuji dengan kehilangan, kesedihan, kesulitan ekonomi, sakit, bahkan keadaan yang terasa begitu berat untuk diterima.
Namun kisah Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa di balik setiap ujian Allah terdapat hikmah besar yang kadang belum mampu dipahami manusia saat itu juga.
Dan yang lebih menggetarkan hati adalah keteguhan Nabi Ismail AS. Ketika sang ayah menyampaikan perintah Allah tersebut, Nabi Ismail tidak memberontak. Ia tidak marah. Ia justru berkata dengan penuh ketakwaan:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Betapa luar biasanya keimanan seorang anak yang rela menyerahkan dirinya demi menjalankan perintah Allah SWT. Dari kisah itu, Idul Adha mengajarkan bahwa cinta sejati kepada Allah harus berada di atas segala cinta dunia.
Khutbah Idul Adha pagi itu membuat banyak jamaah terdiam dan merenung. Sebab sesungguhnya, kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan. Kurban sejati adalah bagaimana manusia mampu menyembelih ego, kesombongan, keserakahan, dan sifat-sifat buruk yang selama ini tumbuh dalam dirinya.
Di tengah kehidupan modern yang semakin dipenuhi persaingan dan kesibukan duniawi, manusia sering kali lupa bahwa hidup bukan sekadar mencari materi dan kenikmatan dunia. Ada tanggung jawab spiritual dan sosial yang harus dijaga.
Idul Adha hadir untuk mengingatkan manusia agar kembali kepada nilai-nilai keikhlasan, kepedulian, dan kasih sayang terhadap sesama.
Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Al Muhajirin, Ustad Bukhari Sidiq, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh jamaah yang telah mempercayakan hewan kurbannya kepada panitia Masjid Al Muhajirin untuk disembelih dan dibagikan kepada yang berhak menerima.
Menurutnya, amanah tersebut merupakan bentuk kepercayaan besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepercayaan dan amanah dari seluruh jamaah yang telah mengorbankan hewan kurbannya di Masjid Al Muhajirin,” ujarnya.
Pada Idul Adha tahun ini, Masjid Al Muhajirin menerima hewan kurban sebanyak 15 ekor sapi dan 43 ekor kambing, dengan rincian 41 ekor kambing untuk kurban dan dua ekor untuk aqiqah.
Semangat berkurban warga Perumahan Permata Alam Permai menunjukkan bahwa nilai gotong royong dan kepedulian sosial masih tumbuh kuat di tengah masyarakat. Proses penyembelihan dan pembagian daging kurban bukan sekadar kegiatan rutin tahunan, melainkan simbol persaudaraan dan kebersamaan antarwarga.
Daging kurban nantinya dibagikan kepada warga Perumahan Permata Alam Permai serta masyarakat sekitar perumahan agar keberkahan Idul Adha dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Di situlah letak indahnya Idul Adha. Ketika mereka yang memiliki rezeki belajar berbagi dengan penuh ketulusan. Ketika kebahagiaan tidak hanya dirasakan sendiri, tetapi juga diberikan kepada orang lain yang membutuhkan.
Karena sejatinya, agama mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah manusia yang paling besar manfaatnya bagi sesama.
Momentum Idul Adha di Masjid Al Muhajirin tahun ini menjadi gambaran bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah ritual semata, tetapi juga pusat tumbuhnya nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan kasih sayang.
Di tengah dunia yang semakin individualis, Idul Adha mengajarkan bahwa hidup harus dijalani dengan hati yang lembut, tangan yang ringan membantu, dan jiwa yang penuh syukur kepada Allah SWT.
Sebab pada akhirnya, makna terdalam dari kurban bukanlah tentang hewan yang disembelih, melainkan tentang hati manusia yang belajar tunduk kepada Allah, belajar ikhlas menerima ketentuan-Nya, dan belajar mencintai sesama dengan penuh ketulusan.
Dan sebagaimana Nabi Ibrahim AS yang lulus dari ujian keimanan karena keteguhan hatinya, semoga Iduladha 1447 Hijriah ini juga menjadi jalan bagi setiap manusia untuk semakin dekat kepada Allah SWT, semakin lembut kepada sesama, serta semakin kuat menjaga iman dalam setiap ujian kehidupan.
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Walillahilhamd. (Bagas)











