Webinar Internasional Universitas Ciputra Surabaya Menjadi Panggung Gagasan Global tentang Masa Depan Pekerjaan, Mobilitas Talenta, dan Daya Saing SDM Dunia

Surabaya – Surabaya kembali menunjukkan perannya sebagai pusat lahirnya pemikiran global melalui penyelenggaraan webinar internasional bertajuk “The Future of Work: Cross-Border Employment and Global Labor Competitiveness in a Global Economy” pada 23 Mei 2026. Kegiatan akademik berskala internasional ini bukan sekadar forum diskusi biasa, melainkan ruang kolaborasi lintas negara yang mempertemukan gagasan, pengalaman global, serta visi masa depan tentang dunia kerja yang terus berubah tanpa batas geografis.

Diselenggarakan oleh mahasiswa doktoral batch 6 dan batch 7 Universitas Ciputra Surabaya bekerja sama dengan Universiti Utara Malaysia, seminar ini berhasil menarik perhatian lebih dari 1.500 peserta dari 15 negara di dunia. Peserta hadir melalui platform Zoom dan YouTube Live Streaming, berasal dari berbagai latar belakang profesi mulai dari akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi pembangunan, pegawai negeri, profesional korporasi, pengusaha, hingga pekerja kemanusiaan internasional.

Keberagaman peserta dari Indonesia, Malaysia, Nepal, India, Bangladesh, Sri Lanka, Singapura, Filipina, Timor Leste, Vanuatu, Kepulauan Solomon, Turki, hingga sejumlah negara Afrika menjadi bukti bahwa isu masa depan pekerjaan kini telah menjadi perhatian global yang sangat relevan.

Webinar ini dipandu oleh Haidy Wijaya, Regional Finance Director World Vision International South Asia and Pacific sekaligus mahasiswa doktoral Universitas Ciputra Surabaya. Dalam pengantarnya, Haidy menegaskan bahwa dunia sedang memasuki era baru ketenagakerjaan global yang menuntut kesiapan sumber daya manusia yang adaptif, kompetitif, dan mampu bekerja lintas negara.

“Dunia kerja saat ini tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis. Kompetensi, kemampuan beradaptasi, dan jejaring global menjadi faktor penentu utama dalam memenangkan persaingan masa depan,” ungkap Haidy.

Diskusi webinar juga dikaitkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya terkait pembangunan inklusif, kualitas pendidikan, pekerjaan layak, dan pengurangan kesenjangan global.

Salah satu sesi yang paling menyita perhatian datang dari keynote speaker pertama, Ms. Kendra Gates do-Rausel dari World Vision International. Dalam paparannya, Kendra membawa perspektif yang sangat kuat tentang realitas negara-negara pulau kecil Pasifik atau Small Island Developing States (SIDS) yang sering kali luput dari perhatian dunia.

Berbekal pengalaman lebih dari 25 tahun tinggal dan bekerja di Vanuatu, Kendra menjelaskan bagaimana mobilitas tenaga kerja internasional menjadi peluang ekonomi sekaligus tantangan sosial bagi masyarakat Pasifik.

Ia mengungkapkan bahwa program tenaga kerja ke Australia dan Selandia Baru memang berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat secara signifikan. Banyak keluarga mampu memperbaiki rumah, menyekolahkan anak, hingga membangun usaha kecil dari hasil remitansi pekerja migran.

Namun di balik manfaat ekonomi tersebut, muncul persoalan baru yang tidak sederhana. Banyak pekerja menghabiskan sebagian besar waktunya di luar negeri sehingga memunculkan “budaya migrasi”, di mana bekerja di luar negeri menjadi standar harapan hidup generasi muda.

“Mobilitas tenaga kerja memang membuka peluang ekonomi besar, tetapi jika tidak dikelola seimbang, dapat memicu brain drain, melemahkan komunitas lokal, hingga memengaruhi ketahanan sosial masyarakat,” jelas Kendra.

Ia juga menyoroti dampak sosial yang mulai terlihat di sejumlah wilayah Pasifik, seperti meningkatnya kerentanan keluarga, hilangnya tenaga produktif di desa, hingga melemahnya kapasitas masyarakat menghadapi bencana alam karena banyak pria usia produktif bekerja di luar negeri.

Paparan tersebut memberikan gambaran nyata bahwa globalisasi ketenagakerjaan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut identitas sosial, ketahanan komunitas, dan keberlanjutan pembangunan manusia.

Sementara itu, keynote speaker kedua, Mr. Luigi Maheesa Prolanca, Senior Advisor Kantor Presiden Republik Indonesia, membawa perspektif strategis mengenai posisi Indonesia di tengah perubahan tatanan global.

Dengan pengalaman internasional lebih dari 26 tahun di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbagai organisasi multilateral, Luigi menegaskan pentingnya konsep brain circulation, yaitu bagaimana talenta Indonesia yang memiliki pengalaman global dapat kembali dan berkontribusi membangun bangsa.

Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar menuju visi Indonesia Emas 2045, tetapi syarat utamanya adalah penguatan kualitas sumber daya manusia melalui sains, teknologi, inovasi, pendidikan STEM, dan penguasaan keterampilan global.

“Dunia kerja masa depan membutuhkan manusia yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga adaptif, memiliki soft skills kuat, kemampuan diplomasi, jejaring internasional, dan semangat belajar sepanjang hayat,” tegas Luigi.

Ia juga mengingatkan bahwa persaingan global saat ini tidak hanya terjadi antar individu, tetapi antar negara. Karena itu, pemerintah harus mampu menghadirkan kebijakan yang terintegrasi untuk meningkatkan daya saing nasional, memperkuat ekonomi, dan melindungi kepentingan negara di tengah dinamika geopolitik dunia.

Dalam sesi tanya jawab, diskusi berkembang sangat dinamis. Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari perlindungan ekonomi negara berkembang di tengah perang dagang global, kontribusi Indonesia sebagai donor kemanusiaan internasional, hingga bagaimana negara-negara kecil menggunakan diplomasi dan soft power untuk memperjuangkan kepentingannya di panggung dunia.

Webinar ini pada akhirnya menyampaikan satu pesan besar: masa depan pekerjaan tidak lagi mengenal batas negara. Dunia telah bergerak menuju ekosistem global yang menuntut setiap individu untuk terus belajar, beradaptasi, dan membangun kompetensi internasional.

Namun lebih dari sekadar berbicara tentang pekerjaan, seminar ini juga menghadirkan refleksi mendalam bahwa pembangunan manusia harus tetap berpusat pada nilai kemanusiaan, keseimbangan sosial, dan keberlanjutan.

Sebagai perwakilan panitia penyelenggara, Lala selaku CEO MSS Group sekaligus mahasiswa doktoral Universitas Ciputra Surabaya menyampaikan harapan inspiratif kepada seluruh peserta.

“Saya berharap setiap peserta tidak hanya pulang dengan pengetahuan baru, tetapi juga dengan keberanian baru keberanian untuk bermimpi lebih besar, terus belajar, membangun jaringan, dan percaya bahwa peluang global juga dapat dimiliki oleh siapa pun, termasuk kita di Indonesia,” ujarnya.

Melalui seminar internasional ini, Universitas Ciputra Surabaya kembali membuktikan bahwa kampus bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga ruang lahirnya pemikiran global, kolaborasi lintas negara, dan gagasan besar untuk menjawab tantangan masa depan dunia kerja.

Dari Surabaya, sebuah pesan kuat kembali digaungkan kepada dunia: bahwa generasi muda Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam persaingan global, tetapi harus berani menjadi pemain utama yang mampu bersaing, berkontribusi, dan memimpin di panggung internasional. (Bagas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

List

Kepsek SDN Kraton 3 Bangkalan Bantah Adanya Kewajiban Beli Buku, Sebut Itu Inisiatif Wali Murid

BANGKALAN | TIMES MERAH PUTIH.COM– Polemik dugaan pembebanan pembelian buku pelajaran dan pengelolaan Dana BOS di UPTD SD Negeri Kraton ...

Targetkan Emas Asian Games 2026, Timnas BMX Indonesia Digembleng di Banyuwangi

BANYUWANGI - Times Merah putih.com//Tim nasional balap sepeda Indonesia nomor BMX terus meningkatkan intensitas latihan menjelang Asian Games Aichi-Nagoya 2026, ...

Targetkan Emas Asian Games 2026, Timnas BMX Indonesia Digembleng di Banyuwangi

BANYUWANGI - Times Merah putih.com//Tim nasional balap sepeda Indonesia nomor BMX terus meningkatkan intensitas latihan menjelang Asian Games Aichi-Nagoya 2026, ...

Bupati Ipuk: Kompetisi Ajang Asah Percaya Diri Siswa

BANYUWANGI – Times Merah putih.com//Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengajak para pelajar untuk aktif mengikuti beragam kompetisi. Hal ini sebagai bagian ...

Dana BOS SDN Kraton 3 Dipertanyakan, Ketua Pejalan: Program Wajib Belajar Jangan Sampai Berujung Beban bagi Orang Tua

BANGKALAN | Times Merah Putih.Com-Polemik dugaan penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di UPTD SD Negeri Kraton 3 Bangkalan terus ...

MAKI Jatim Desak P2CKTR Sidoarjo Bertindak Tegas Dalam Sengketa Padel dan Infesta Boutique Hotel di Permata Juanda

SIDOARJO, 1 Agustus 2026 — Di tengah kawasan permukiman yang semestinya menjunjung ketenteraman dan keteraturan, polemik keberadaan fasilitas padel serta ...
error: Content is protected !!