Foto: Kegiatan bedah buku lingkungan oleh HMI cabang Bangkalan dan MUI Bangkalan
BANGKALAN — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bangkalan berkolaborasi dengan : Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bangkalan sukses menggelar launching dan bedah buku bertema lingkungan hidup di Pendopo Agung Kabupaten Bangkalan, Kamis (29/10/2026).
Kegiatan yang dihadiri Bupati Bangkalan Lukman Hakim beserta jajaran Forkopimda tersebut mengangkat urgensi kesadaran etika lingkungan melalui pengelolaan air limbah menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Ketua HMI Cabang Bangkalan, Kresna Bayu, S.H., menegaskan bahwa menjaga kelestarian lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan nyata berprinsip “ambil bersih, buang bersih” agar kebermanfaatan alam tetap terjaga bagi makhluk hidup lain.
Buku yang dibedah merupakan karya bersama empat penulis, yakni Kresna Bayu, S.H., Bahrulloh, S.H. (Ketua Bidang HAM dan Lingkungan Hidup HMI Cabang Bangkalan), Romi Harris Saputra, S.T., dan Akhmad Syahruddin, S.T
Diskusi ini juga menghadirkan sejumlah penanggap terkemuka, seperti KH. Makki Nasir, M.Pd. (Ketua MUI sekaligus Ketua PCNU Bangkalan), Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H. (Rektor Universitas Trunojoyo Madura), serta dr. Hamid Nawawi, Sp.A. (dokter spesialis anak).
Dalam bedah buku kolaboratif yang turut disusun oleh empat penulis ini, Bahrulloh, S.H. selaku Ketua Bidang HAM dan Lingkungan Hidup HMI Cabang Bangkalan memaparkan tinjauan kritis dari sudut pandang yuridis dan hak asasi manusia.
Bahrulloh menegaskan bahwa pengolahan limbah bukanlah sekadar formalitas izin usaha, melainkan instrumen pelindung hak dasar hidup masyarakat yang diamanatkan oleh UU Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air.
Bahrulloh secara tegas menyampaikan bahwa kerusakan perairan akibat pembiaran limbah merupakan ancaman serius bagi martabat kemanusiaan:
“Tidak ada pemenuhan hak atas kesehatan dan kehidupan yang layak jika ekosistem perairan hancur akibat kelalaian pembuangan limbah.”
Ia juga menyoroti konsep act of omission (kelalaian negara), di mana pembiaran otoritas terhadap pencemaran limbah berbahaya memberikan dasar hukum yang kuat bagi masyarakat untuk melayangkan gugatan warga negara (citizen lawsuit)
Krisis IPAL dan pencemaran air di Bangkalan dinilai telah memicu penindasan struktural—mulai dari ancaman bakteri E. coli, risiko stunting, hingga kemiskinan sistematis akibat biaya kesehatan yang mahal.
Bahrulloh, S.H. menutup paparannya dengan seruan kuat:
“Keadilan Ekologis Bukan Hadiah Penguasa, Melainkan Hak Hakiki Warga Negara.”
Sementara itu, Romi Harris Saputra, S.T., selaku praktisi lingkungan sekaligus Pimpinan Basis News yang turut menjadi bagian dari tim penulis, menekankan pentingnya peran gerakan mahasiswa dan intelektual untuk keluar dari “menara gading”.
Romi menyoroti bahwa persoalan tata kelola ekologis yang buruk (bad governance) di daerah harus dikawal dengan pendekatan berbasis data ilmiah serta pengawasan edukatif yang menyentuh langsung realitas akar rumput, guna menghindari gerakan retoris yang elitis.
Dari sisi penerapan teknologi, Akhmad Syahruddin, S.T. selaku aplikator IPAL menekankan pentingnya menghadirkan solusi infrastruktur yang fungsional dan berkelanjutan, bukan sekadark pembangunan fisik yang mangkrak atau gugur kewajiban di atas kertas.
Syahruddin membuktikan komitmen tersebut melalui proyek rekonstruksi nyata di lapangan. Berkat kolaborasi teknis antara HMI Bangkalan, praktisi, dan aplikator, Puskesmas Tanah Merah berhasil difungsikan kembali fasilitas IPAL-nya dan kini telah dinyatakan Lolos Uji Laboratorium Envilab.
Diskusi bedah buku ini semakin kaya dengan kehadiran tiga penanggap utama:
KH. Makki Nasir, M.Pd. (Ketua MUI sekaligus Ketua PCNU Bangkalan) yang menekankan dimensi keagamaan bahwa menjaga kelestarian alam adalah mandat utama manusia sebagai khalifah di bumi.
Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H. (Rektor Universitas Trunojoyo Madura) yang mempertemukan gagasan akademis dengan kebutuhan mendesak penerapan teknologi lingkungan di tengah masyarakat.
dr. Hamid Nawawi, Sp.A. (Dokter Spesialis Anak) yang menggarisbawahi dampak langsung pengelolaan limbah terhadap pencegahan penyakit anak dan peningkatan kesehatan masyarakat.
Melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan mahasiswa, ulama, akademisi, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah ini, HMI Bangkalan optimistis bahwa pengelolaan air limbah dapat menjadi titik balik untuk memajukan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) serta mewujudkan pembangunan Bangkalan yang berkelanjutan.











