BANGKALAN || timesmerahputih.com— Ketua Perkumpulan Jurnalis Bangkalan (Pejalan) Syaiful Anam, S, Pd. angkat suara terkait sengketa pemberitaan yang berujung pada rencana somasi kepada salah satu wartawan di Bangkalan. Ia menyayangkan jika perbedaan persepsi dalam pemberitaan justru berujung pada miskomunikasi dan jalur hukum.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul persoalan yang melibatkan Hanif, yang mengaku sebagai salah satu wartawan di Bangkalan, dan adanya ajakan klarifikasi dari pihak yang merasa dirugikan namun tidak dihadiri.
Menurut Syaiful Anam, keberadaan media dan wartawan memiliki peran strategis sebagai jembatan informasi. Karena itu, setiap pemberitaan wajib mengedepankan prinsip jernih, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Begitu juga ketika ada pihak yang merasa keberatan, maka ruang klarifikasi adalah jalan utama yang harus ditempuh lebih dulu, bukan langsung ke konfrontasi,” ujarnya di Bangkalan, Senin (31/08/2026).
Ia berharap saudara Hanif yang mengaku sebagai wartawan, serta pihak redaksi, bersedia hadir dan memberikan klarifikasi secara terbuka.
“Prinsip jurnalistik itu jelas: akurat, berimbang, dan tidak merugikan. Jika memang ada kekeliruan, mari diluruskan. Jika memang sesuai fakta dan data, maka sampaikan dengan bukti agar masyarakat tidak terjebak pada narasi yang simpang siur,” tegasnya.
Syaiful Anam juga memahami bahwa langkah hukum seperti somasi merupakan hak setiap warga negara yang merasa dirugikan. Namun ia mengingatkan, penyelesaian secara kekeluargaan dan dialog tetap harus diutamakan.
“Langkah hukum seperti somasi adalah hak. Namun alangkah baiknya jika penyelesaian diawali dengan dialog dan itikad baik. Bangkalan ini kecil. Kita semua bersaudara. Jangan sampai persoalan pemberitaan justru memecah kepercayaan publik terhadap pers dan aktivis,” jelasnya.
Ia menilai, jika setiap persoalan langsung dibawa ke jalur hukum tanpa komunikasi, maka iklim pers di Bangkalan akan menjadi tidak sehat. Padahal pers dan masyarakat memiliki kepentingan yang sama, yaitu menghadirkan informasi yang benar.
Lebih lanjut, Ketua Pejalan mengajak seluruh elemen untuk menjaga marwah Bangkalan dalam menyikapi persoalan pemberitaan.
“Saya mengajak semua pihak, media, narasumber, maupun masyarakat untuk menjaga marwah Bangkalan. Jadikan klarifikasi sebagai budaya, bukan somasi sebagai ancaman pertama. Karena tugas kita bersama adalah memastikan informasi yang beredar benar, mencerahkan, dan tidak menimbulkan kegaduhan,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Syaiful Anam menggarisbawahi pentingnya kebebasan pers yang tetap dibarengi tanggung jawab. “Pers bebas, tapi tetap bertanggung jawab. Kritik boleh, fitnah jangan,” pungkasnya.
Catatan Redaksi: Hingga berita ini tayang, pihak terkait belum dapat dikonfirmasi. Redaksi terbuka untuk hak jawab
(Azis).











