Sekjen Basra Klarifikasi: Penolakan MOU Industri Bukan Sikap Resmi Ulama Madura 

BANGKALAN || timesmerahputih.com– Beredarnya kabar bahwa Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura atau BASRA menolak Memorandum of Understanding atau MOU investasi dengan pihak Tiongkok, langsung diklarifikasi oleh pengurus.

KH.Muhammad Syafii Rofii, Sekretaris Jenderal BASRA menegaskan bahwa sikap menolak tersebut bukan merupakan pandangan resmi lembaga.
“Saya Muhammad Syafii Rofii sebagai Sekretaris Jenderal Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura atau yang dikenal oleh masyarakat BASRA akan menyampaikan beberapa hal”ujarnya.
Syafii Rofii menjelaskan, sejak berdiri sekitar tahun 1990, BASRA tidak pernah bersikap frontal kepada siapapun, termasuk kepada pemerintah.
“Pertama bahwa BASRA mulai berdiri sekitar seribu sembilan ratus sembilan puluh itu tidak pernah frontal dengan semua kalangan, tidak pernah frontal apalagi dengan pemerintah dan lain sebagainya. Terserah kalau punya pandangan ini ya sebagaimana khasnya kiai atau ulama”jelasnya.
Ia mencontohkan saat pembangunan Jembatan Suramadu. Saat itu diperkirakan akan ada industrialisasi di kawasan tersebut.
“BASRA tidak pernah frontal menolak tapi kiai-kiai itu dengan bijaksana memberi rambu-rambu, memberi arahan-arahan bagaimana ekonomi itu bisa tumbuh”_katanya.
Terkait pertemuan di Sumenep pada tanggal 16 Agustus di rumah KH. Sufyan, Syafii meluruskan ada 2 agenda utama.
“Jadi BASRA ini pada tanggal 16 Agustus itu memang ada pertemuan di Sumenep di rumahnya Kiai Sufyan. Ada dua agenda pada saat itu. Pertama ya bincang-bincang tentang keadaan ini termasuk MOU antara pemerintah Cina dan Indonesia itu yang ditandatangani. Yang kedua bahwa akan melakukan peletakan batu pertama musala yang akan dibangun oleh Kiai Sufyan” terangnya.
Dalam pertemuan itu, semua pandangan terkait MOU dan kawasan industri ditampung. Namun intinya, para ulama sepakat bahwa ekonomi masyarakat harus dibangun.
“Ditampung pandangan-pandangan terhadap MOU itu. Tapi intinya bahwa para ulama yang hadir, para kiai sepakat bahwa ekonomi masyarakat ini harus dibangun” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa Ketua BASRA KH. Muhammad Rafii Baidawi sudah menegaskan pertemuan itu bersifat internal. “Tidak boleh direkam, tidak boleh difoto, tidak boleh ada wartawan. Nah itu sehingga gayeng gitu, bebas lah di konteks itu”.
Selain itu Syafii meluruskan kabar yang beredar ke Raden Haji Ali Badri bahwa BASRA menolak industrialisasi.
“Maka ada salah satu kiai yang hadir… terus diinformasikan kepada Raden Haji Ali Badri bahwa BASRA, kiai-kiai, habib menolak adanya industrialisasi atau MOU itu. Padahal ndak ada, ndak ada kata-kata menolak ada apa-apa. Itu pribadi kiai itu dengan Raden Haji Ali Badri di situ” ujarnya.
Klarifikasi ini dilakukan atas permintaan para kiai yang hadir agar tidak menimbulkan keresahan dan hujatan kepada ulama.
“Kenapa saya klarifikasi ini, saya diminta oleh para kiai-kiai yang hadir rapat itu yang mesra dan ada klarifikasi, ada sehingga tidak menimbulkan keresahan masyarakat. Tidak menimbulkan hujatan-hujatan masyarakat kepada kiai. Karena kiai diangkat anti ekonomi rakyat, anti kemajuan dan lain sebagainya” katanya.
Di akhir, ia menyebut BASRA akan menggelar pertemuan lanjutan yang lebih luas. “Dan BASRA masih, Kiai Muhammad Rafii Baidawi masih menyuruh saya ada pertemuan lanjutan yang lebih luas dari kalangan intelektual, dari kalangan dosen-dosen, dari kalangan tokoh masyarakat, dari kiai, dari ulama, dari berbagai kalangan. Dan itu kita sudah mengkonsepkan, saya sebagai sekretaris beliau sudah mengkonsep”pungkasnya.
“Saya kira masyarakat harap maklum bahwa itu bukan pandangan BASRA. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”tutup KH.Muhammad Syafii Rofii.
(Azis).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

List

Sabung Ayam Akhir Pekan di Desa Weru Disorot, Polres Kediri Diminta Bertindak

KEDIRI, — Aktivitas perjudian sabung ayam di Desa Weru, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, disebut masih berlangsung secara terbuka ...

Polemik Polis Prudential Syariah Memanas: Nasabah Somasi, Tuntut Pemulihan dan Siapkan Laporan ke OJK

SURABAYA, 14 September 2026 — Praktek penghentian polis secara sepihak (lapse) kembali memicu perselisihan hukum serius di sektor asuransi jiwa ...

FKPB Desak Pengelolaan Hasil Migas Madura Diprioritaskan untuk Kesejahteraan Warga Lokal

BANGKALAN || timesmerahputih.com— Forum Komunikasi Pemuda Bangkalan (FKPB) menyuarakan sikap tegas terkait eksploitasi sumber daya alam di wilayah Pulau Madura ...

PKDI CUP 2026 SUKSES DIGELAR DI BANGKALAN, BUPATI TEKANKAN PENTINGNYA KEBERSAMAAN ANTAR DESA`

BANGKALAN || timesmerahputih.com- Kabupaten Bangkalan sukses menjadi tuan rumah Grand Final PKDI Cup 2026 yang digelar di Stadion Gelora Bangkalan ...

KAPOLRES BANGKALAN BERIKAN PENGHARGAAN DAN APRESIASI KEPADA PERSONEL BERPRESTASI SAAT APEL JAM PIMPINAN

BANGKALAN || timesmerahputih.com- Semangat dan dedikasi personel kembali diapresiasi. Kapolres Bangkalan AKBP Wibowo, S.I.K., M.H. memimpin langsung pelaksanaan Apel Jam ...

Video Lama Dikemas Seolah Peristiwa Baru, MAKI Jatim Ingatkan Bahaya Hoaks dan Provokasi

SURABAYA, 14 September 2026 — Sebuah video lama terkait penggeledahan kantor Gubernur Jawa Timur oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali ...
error: Content is protected !!