SURABAYA – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang kian menjauhkan manusia dari akar sejarah dan nilai-nilai kekeluargaan, Allah SWT kembali mempertemukan hati-hati yang dipersatukan oleh nasab, cinta, dan doa dalam sebuah majelis penuh keberkahan. Melalui Silaturahmi Akbar Keluarga Besar Pohjentrek Pasuruan yang digelar di Omah Budaya Ki Sunaryo Umarsidik, Jalan Diponegoro Nomor 66 Surabaya, Minggu Kliwon (7/6/2026), ratusan keluarga besar berkumpul dalam suasana khidmat untuk memperingati Haul ke-75 Almarhum Mbah Umarsidik, sosok yang dikenang sebagai teladan kebijaksanaan, pengikat persaudaraan, dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Kehadiran keluarga besar dari berbagai daerah bukan sekadar memenuhi undangan pertemuan tahunan. Lebih dari itu, mereka datang membawa kerinduan untuk menyambung tali silaturahmi yang diperintahkan Allah SWT, mempererat ukhuwah yang diwariskan leluhur, serta memanjatkan doa-doa terbaik bagi para pendahulu yang telah mendahului menghadap Sang Khalik.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” Nilai luhur itulah yang terasa begitu hidup dalam setiap rangkaian kegiatan. Wajah-wajah penuh kehangatan, pelukan persaudaraan, saling sapa, dan untaian doa menjadi pemandangan yang menghadirkan kesejukan hati sekaligus mengingatkan bahwa persaudaraan adalah nikmat besar yang harus dijaga sepanjang hayat.
Haul ke-75 Mbah Umarsidik bukan hanya menjadi momentum mengenang perjalanan hidup seorang tokoh keluarga. Lebih dari itu, acara ini menjadi majelis tafakur untuk meneladani perjuangan, akhlak mulia, semangat gotong royong, dan kepedulian sosial yang selama hidup beliau tanamkan kepada keluarga maupun masyarakat sekitar.
Dalam suasana penuh kekhusyukan, lantunan doa dan tahlil menggema mengiringi harapan agar Allah SWT melimpahkan rahmat, maghfirah, dan tempat terbaik bagi Almarhum Mbah Umarsidik. Setiap doa yang dipanjatkan menjadi bukti bahwa hubungan antara generasi yang masih hidup dengan para leluhur tidak pernah terputus. Mereka dipersatukan oleh ikatan cinta, penghormatan, dan doa yang terus mengalir sebagai amal kebaikan.
Para sesepuh keluarga secara bergantian menyampaikan kisah-kisah keteladanan Mbah Umarsidik. Nasihat-nasihat beliau tentang pentingnya menjaga persatuan, membantu sesama, menghormati orang tua, dan memelihara hubungan kekeluargaan kembali dihidupkan di hadapan generasi muda. Kisah-kisah tersebut menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari harta dan kedudukan, melainkan dari manfaat yang ditinggalkannya bagi sesama manusia.
Omah Budaya Ki Sunaryo Umarsidik yang menjadi pusat kegiatan juga menjadi simbol penting pelestarian sejarah keluarga. Tempat ini bukan sekadar bangunan fisik, tetapi rumah peradaban keluarga yang menyimpan jejak perjalanan leluhur, nilai budaya, dan semangat persaudaraan yang diwariskan lintas generasi.
Turut hadir Ketua LSM Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur, Heru Satriyo, bersama istrinya Dwi Yulis. Kehadiran mereka menjadi bentuk penghormatan terhadap upaya keluarga besar Pohjentrek dalam menjaga nilai-nilai kebersamaan, budaya, dan keteladanan yang diwariskan para pendahulu.
Menurut Heru Satriyo, keluarga yang mampu menjaga silaturahmi dan menghormati leluhurnya adalah keluarga yang memiliki fondasi moral kuat. Sebab, dari sanalah lahir karakter yang berakhlak, rasa tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan kehidupan di era modern yang semakin kompleks.
Di tengah derasnya arus globalisasi, acara ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan akar budaya, adab, dan jalinan kasih sayang dalam keluarga. Sebaliknya, kemajuan zaman harus menjadi sarana untuk semakin memperkuat ukhuwah, memperluas manfaat, dan menjaga warisan luhur yang telah dititipkan oleh para pendahulu.
Silaturahmi Akbar dan Haul ke-75 Mbah Umarsidik akhirnya menjadi bukti nyata bahwa warisan terbesar para leluhur bukanlah harta benda yang dapat habis dimakan waktu, melainkan nilai-nilai persaudaraan, akhlak mulia, kasih sayang, dan semangat kebersamaan yang terus hidup dalam dada setiap generasi penerus.
Ketika doa-doa dipanjatkan, tangan-tangan saling berjabat, dan hati-hati kembali dipersatukan dalam bingkai ukhuwah, sesungguhnya saat itulah cahaya keberkahan turun menyelimuti keluarga besar yang menjaga silaturahmi karena Allah SWT. Sebuah warisan agung yang akan terus hidup sepanjang zaman, menjadi pelita bagi anak cucu hingga generasi-generasi yang akan datang.
“Leluhur meninggalkan jejak keteladanan, silaturahmi menjaga keberlangsungannya, dan doa menjadi jembatan yang menghubungkan bumi dengan keberkahan langit. (Wwn)











