Jember – Gelaran “Jatim Specialty Coffee, Tobacco dan UKM/UMKM Fest Vol 3” di Alun-Alun Jember pada Jumat, 15 Mei 2026, bukan hanya festival tahunan biasa. Di balik deretan stan kopi specialty, aroma tembakau unggulan, dan riuh produk UMKM lokal, tersimpan pesan besar tentang arah masa depan ekonomi rakyat di Jawa Timur: daerah harus berdiri dengan kekuatan produksinya sendiri.
Festival ini menjadi panggung nyata bahwa Jember tidak lagi sekadar dikenal sebagai daerah agraris biasa, melainkan mulai menegaskan diri sebagai pusat kekuatan kopi dan tembakau nasional. Ketika puluhan UMKM lokal diberi ruang tampil gratis, ribuan masyarakat hadir, dan berbagai OPD Pemerintah Provinsi Jawa Timur ikut terlibat langsung, festival ini berubah menjadi simbol bahwa ekonomi kerakyatan masih memiliki daya hidup yang sangat kuat di tengah tekanan ekonomi modern.
Pembukaan acara berlangsung khidmat melalui lagu Indonesia Raya dan doa bersama. Namun di balik suasana seremonial itu, terdapat semangat besar yang sedang dibangun: menyatukan pemerintah, pelaku usaha, petani, komunitas, dan masyarakat dalam satu gerakan ekonomi berbasis potensi lokal.
Sebanyak 40 stan meramaikan festival tersebut. Tiga belas stan diisi Organisasi Perangkat Daerah, sementara 28 stan lainnya ditempati pelaku UMKM dari berbagai sektor usaha. Angka ini mungkin terlihat sederhana di atas kertas, tetapi maknanya jauh lebih besar. Di tengah persaingan pasar yang makin keras dan dominasi produk industri besar, keberadaan UMKM lokal di ruang publik seperti ini adalah bentuk perlawanan ekonomi rakyat agar tidak tersingkir di tanahnya sendiri.
Pernyataan panitia bahwa festival ini bertujuan membantu UMKM “naik kelas” seharusnya tidak berhenti menjadi slogan tahunan. Sebab realitas di lapangan menunjukkan banyak pelaku UMKM masih menghadapi persoalan klasik: akses pasar, permodalan, distribusi, digitalisasi, hingga perlindungan terhadap produk lokal. Festival seperti ini penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah keberlanjutan kebijakan setelah panggung acara dibongkar.
Di titik inilah kritik paling mendasar harus disampaikan.
Daerah seperti Jember sesungguhnya sudah lama memiliki kekuatan komoditas yang luar biasa, terutama kopi dan tembakau. Namun selama bertahun-tahun, banyak daerah penghasil hanya menjadi pemasok bahan mentah tanpa mendapatkan nilai ekonomi maksimal. Petani bekerja keras di kebun, tetapi keuntungan terbesar sering kali dinikmati rantai industri di luar daerah. Karena itu, ketika muncul gagasan menjadikan Jember sebagai “Surga Kopi Indonesia”, publik tentu berharap konsep tersebut tidak berhenti sebagai jargon politik atau slogan festival semata.
Pernyataan Ketua MAKI Jawa Timur, Heru Satriyo, bahwa Jember layak menjadi episentrum kopi dan tembakau nasional memiliki dasar yang kuat. Daerah ini memiliki sejarah perkebunan panjang, kualitas komoditas unggulan, serta pertumbuhan UMKM yang terus bergerak. Tetapi untuk menjadi episentrum nasional, dibutuhkan lebih dari sekadar festival tahunan. Dibutuhkan keberanian membangun industri hilir, perlindungan petani, penguatan branding global, hingga keberpihakan anggaran yang nyata terhadap ekonomi lokal.
Kolaborasi lintas OPD Pemprov Jawa Timur dalam festival ini memang layak diapresiasi. Kehadiran dinas-dinas strategis menunjukkan bahwa pemerintah mulai melihat UMKM bukan lagi pelengkap ekonomi, melainkan fondasi utama ketahanan daerah. Namun ukuran keberhasilan tidak cukup dihitung dari ramainya pengunjung atau jumlah stan pameran. Ukuran sesungguhnya adalah: apakah setelah festival selesai omzet UMKM benar-benar naik? Apakah petani kopi dan tembakau mendapatkan harga yang lebih adil? Apakah produk lokal mampu masuk pasar nasional bahkan internasional?
Jika tidak, maka festival hanya akan menjadi keramaian tahunan yang ramai di dokumentasi, tetapi sepi dampak jangka panjang.
Meski demikian, gelaran ini tetap membawa harapan besar. Kehadiran sekitar 2.200 peserta fun run dan target lebih dari 4.000 pengunjung menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap kebangkitan ekonomi lokal masih sangat tinggi. Ini membuktikan bahwa masyarakat sebenarnya haus terhadap ruang-ruang publik yang mengangkat identitas daerah sekaligus membuka peluang ekonomi rakyat.
Festival ini pada akhirnya bukan hanya tentang kopi, tembakau, atau bazar UMKM. Ini adalah pertarungan menjaga identitas ekonomi daerah di tengah arus pasar yang semakin seragam. Dan Jember sedang mengirim pesan kuat kepada Jawa Timur bahkan Indonesia: daerah dengan kekuatan rakyat, pertanian, dan UMKM tidak boleh hanya menjadi penonton di negeri sendiri. (Bagas)











